Friday, August 7, 2009

Ketika Sang Rembulan Balik Mencinta Sang Pungguk

Saat pungguk betina mencinta Sang Rembulan jantan,
diusirnya jauh jauh segala harapan

"Ini cukup rasaku saja.
Mencintanya dengan merindunya...
Mencintanya dengan menatapnya,
Dan meresapi terang samar yang sampai jika langit tak berkabung mega"

Sadar akan terbatasnya sang waktu,
Sang pungguk memilih jujur berwakca
"Aku cinta padamu!", serunya, menitip kata pada hembusan Sang Bayu

Dan tak letih ini dilakukannya,
semenjak raga mengenal cantik Sang Rembulan

Pun mengerti,
akan jarak dan beda yang kadung terjadi,
namun ini tidak pula menghalangi

Pernah kawan mempertanyakan,
Kenapa sampai gerangan
Anggap saja demikian
Hati sang pungguk sungguh nian keras kepala
Tak bisa dibujuk bujuk
Pun tak mempan walau dirajuk

Sampai satu waktu,
saat garis edar tak terlalu jauh dari bumi,
bercakaplah keduanya

"Aku juga mencintamu", balas Sang Rembulan

Dan terpanalah alam semesta
Sang punggukpun seakan tak percaya

"Walau demikian, lantas mau apa?", lanjut Sang Rembulan
"Ini sudah garis Sang Hyang Murba Wisesa.
Seandainya aku tercipta
Pula sebagai pungguk
Mungkin semua akan berbeda
Tapi bukan begitu kenyataannya...
Dan kita harus terima

Sendiri bukan berarti sendirian.
Aku akan baik baik saja.
Kaupun carilah pungguk sepadan.
Sebagai sejatinya teman seperjalanan"

Dan berlalulah kembali Sang Rembulan...
Tinggalkan pungguk dalam kecamuk

Saat cinta akhirnya bersambut,
Saat yang sama ia terenggut.
Bahkan tak lagi bisa titip rindu pada Sang Bayu

Namun tak sesal secercahpun ada pada pungguk
Tetap bersyukur mencinta Sang Rembulan
Karna dengannya belajar bijaksana,
Pun berbagai bentuk akan cinta

"Aku tidak akan apa apa,
Sungguh akan baik baik saja"

Kembali pungguk merenda sang malam
Menanti sang fajar yang menjelang
Read More....

Tuesday, July 28, 2009

Kencan dengan Sang Kekasih

Hari ini, kencanku dengan Sang Kekasih.
Sudah lama rasanya, tidak berdua duaan saja denganNya.

Kupikir kami memang perlu melakukannya.

Ralat: aku yang memerlukannya.

Setelah sekian lama terpantek layar monitor,
dan jadikan tempat kerja jadi rumah pertama,
selama berbulan lamanya,
Hehehe... akhirnya tubuhkupun menyerah juga.

Balur balur merah jadi penghias cantik badan yang cuma satu satunya.
Depan-belakang, leher sampai tangan.

Otakku pun, masih agak menolak juga untuk kuajak kerjasama.

Karnanya, kuputuskan untuk pergi kali ini.
Jatah sisa 60 hari cutiku rasanya masih mencukupi beberapa jam yang akan kupakai hari ini.

Sebelum pergi, aku mampir beli UC1000 orange, susu Bear Brand,
Nu Green Tea dan camilan kecil.
Persiapan kalo perut kukuruyuk minta diisi.

Yep! Berangkaaaaaaatttt...

Nyasar nyasar sedikit karna Pak Ojegnya ngga terlalu hafal jalan, ga apalah...
Yang penting sampai dengan selamat ke Planetarium, Taman Ismail Marzuki.
Salah satu tempat favoritku di muka bumi.

Beli satu lembar tiket di loket depan, lantas naik ke lantai dua.
Sudah lama benar rasanya ngga ke sini.
Terakhir mungkin tahun 2001, waktu nganter anak-anak lesku dari Kebon Jeruk.

Dan... di sanalah Dia beri aku perhiasan yang lebih berharga dan abadi
dari permata, zamrud atau ruby di dunia: bintang gemintang.

Ribuan banyaknya, ah bukan, jutaan...
Berkerlap kerlip menyapaku.
Di Jakarta jarang sekali bisa melihat bintang sebanyak ini.
Cuma di Bira, Sulawesi Selatan, aku ingat pernah melihat mereka secemerlang ini.

Perbandingan besarnya planet bumi dibanding Sang Matahari,
Sang Matahari dibanding gugusan planet dan bintang lain,
Lantas Galaksi Bima Sakti, yang juga hanya salah satu dari entah berapa banyak galaksi di jagad raya yang maha luas ini...

Aih, aku jadi kembali tidak percaya diri dengan cintaku ini...
Sungguh bukan apa-apa...
Sama sekali tak berharga.
Dijadikan persembahan: pantaspun tidak.
Lantas, apa lagi yang kupunya?

Selesai pertunjukan, melangkah aku ke gedung bioskop 21 di sebelah dalam area Taman ini.
Harry Potter tengah tayang di Teater 4.
Film ini memang populer. Novelnyapun jadi bahan koleksi.
Kubeli satu tiket agak ke tengah. Kursi D10, kalau tidak salah.
Banyak kursi yang terisi.
Tapi kosong satu kursi di samping kiriku.
Mungkin Dia ingin aku tahu Dia ada di sampingku...

Filmnya aku bilang lumayan, meski plot percintaan antar tokohnya terkesan sedikit dipaksakan. Entah. Mungkin aku salah. Aku juga bukan ahli di bidangnya.

Di perjalanan pulang, memandang ke luar jendela taksi Putra yang aku tumpangi,
lewat bulan separuh dan langit yang sama sekali tak keruh,
tersenyumlah Dia di sana.
Khusus untukku.

KataNya:
Tak masalah meski rasaku hanya sebesar zarah...
Dia akan tetap mendatangiku berlari

Bahkan, tak pernah sedetikpun Dia jauh dariku.
Selalu memelukku, lewat udara yang menyelubungi paru paru.

Selalu menyapaku,
lewat lambaian dahan dan daun yang tertiup angin...
Dan berbisik lewat gemerisik dan gemercik

"Aku dekat", kataNya...
"Karena itu, jangan takut"

Dan akupun tak berani untuk takut lagi.

"Tidakkah Aku cukup bagimu?", tanyanya...

Duh... tidak berani,
Sungguh aku tidak berani...

Meminta terlalu banyak,
Aku takut tidak mensyukuri nikmat.

Maka, akan kujalani dengan ikhlas peran yang diamanahkan padaku
Dengan Dia ada di sisi
Sampai nanti,
Sampai mati.

Read More....

Tuesday, June 16, 2009

The Serenity Prayer

God grant me the serenity
to accept the things I cannot change;
courage to change the things I can;
and wisdom to know the difference.


Read More....

Tuesday, April 21, 2009

Loving You

'Loving you' seems to be a 'constant factor' of me...

Your response or your 'outer forms' are irrelevant;
because it requires none.

I shall never regret the fact that I did;
that I am; and that I will

Your 'essence' remains beautiful for me,
regardless what the 'time' and the 'distance' would say...

You are loved.
And you'll always be loved.

-Me-

Read More....

Monday, April 6, 2009

Sesuatu

Ada yang membuncah dari dalam
menyeruak
menelusup diam diam
tinggalkanku
bertanya


Read More....

Monday, March 2, 2009

Kepada Setiap Jiwa

Kepada setiap jiwa,
yang telah, sedang, dan akan menyilang jalan hidupku...

Sadarkah, betapa setiapmu adalah indah
Salah satu karya teragung Sang Pencipta
Tak peduli apapun yang kau punya, dan yang tak kau punya
Yang kau lakukan, maupun yang tak kau lakukan

Dan betapa setiapmu demikian berarti
Pada peran apapun yang diamanahkan pada diri
Aih, andai kau memahami

Kesendirian adalah imajinasi,
Sebab sejatinya diri, selalu ditemani
Kesakitan adalah mimpi,
Karnanya biarkanlah ia pergi
Kehilangan hanyalah bayangan,
Lantaran sejatinya Empu, hanya Tunggal yang Satu

Jangan terlena pada kenangan
Karna kinilah yang kau punya sebenarnya
Songsong dengan gagah masa depan
Lukis takdir dengan warna warnimu sendiri!

Andai kau belum tau,
Mengenalmu adalah anugrah
Keberuntungan yang tak terbayangkan

Dan betapa kau dicinta
Begitu dipuja
Rasakanlah
Pada tiap detak
Tiap kejap
Tiap denyut
Tiap langkah
Tiap hela

Ah, dan satu lagi...
Sadarkah,
gurat bibirmu adalah penghias dunia yang termegah
Lebih manis dari madu bunga kahyangan
Lebih cemerlang dari mentari di bumi bidadari

Karnanya, berilah hadiah pada semesta
Hantarkan senyummu, meski satu kali saja

Read More....

Thursday, February 19, 2009

Dancing

(BDM #1: 4-6 minutes)

(Opening Dance): ± 30 seconds
Yamuna ki tatapare,
Nacatta kanayya,
That-that-thay..ya
Bajette payale chum
Na na na na na na na
A thei thet, tha thei thet, a thei thet
Tha tha thei, that ha thei, tha the tha!


Jane Austin, a British novelist and writer, said:
“To be fond of dancing was a certain step towards falling in love.”

Maybe that’s why I love to dance so much…

Dancing for me is one of my passions in life.
Although my profession is a researcher in a marketing research company (and you must as well see that I don’t do it that often… :P ), I always consider my self as a dancer.
Dancing is already carved in my bones, and runs in my blood…

It was all started when I was a kid.. maybe in my first year of elementary school or so…
I still remember one time I cried the whole day asking my parents to make me able to join a traditional Jaipong dance class in my neighborhood. (Jaipong is the West Javanese dance, by the way…)
They only allowed kids of RT/RW staffs to join the class, because it is a program of the Kelurahan. Fortunately, I was finally able to join and be the member.

It was really exciting to be able to perform in a lot of places… Taman Mini, Jakarta Fair, Taman Ria Senayan, and some other places I couldn’t remember…
and for a kid who seldom go anywhere, it was like having recreation as well.

And it is also quite nice to get some awards from dancing competitions…

But these dancing and performing activities didn’t last that long, because the area where I grew up in Kuningan was already aimed for this big project of Rasuna Apartment – now is Rasuna Epicentrum.
Everybody went to different places, and the group was dismissed.

After that, there weren’t many chances for me to learn or to perform any dance; except few times in the 17th August Independence Day celebrations.

You can imagine how I miss dancing…

The chance to learn dance came several years after that, when I was in my final year of my college.
I got to know this place called Jawaharlal Nehru Indian Cultural Center in Jalan Imam Bonjol, and they teach Indian dance.
And so I joined.

And you know what…?
When I first touched the dance floor, when I first heard the music, and saw the movements of the teacher and the students…
I realized that it still lived in me…
The excitement is still there… the passion is still there… and the happiness is still there.
I felt home; a place where I belong.

Indian dance is very interesting because it has many ways to express and communicate your feeling.
It’s not only using body movements; but also using facial expressions:
You can be shy (with movement), in love (with movement), in pain (with movement), angry (with movement), seducing (with movement), or happy (with movement).

After all, a dance, (as well as other kinds of arts) is the way of artists to communicate and to express something.
And a dancer needs to be able to convey well on what the song and the choreography trying to communicate.
You need to dance not only with your body,
but also with your heart, with your soul.

Dancing for me now is more about personal indulgence, a practice of meditation.
So although I couldn’t learn to dance formally again, I can still learn how to dance from the great youtube.

My dream is to learn various types of dances: Javanese, Sumatrans, Chinese, or other types of dances.
Not ballet, though… Let’s say I’m just being… realistic… :P

And later on, when I got settled with my own family, I would make ‘art’ performances special for my future husband and kids.
Complete with a VIP invitation.
It’s going to be more like a drama with dances and dialogues, as well as relevant costume performed solo by me.

It can be a tale of Ramayana / Mahabharata from India, Nawang Wulan of Java, or Sam Pek Eng Tay from China.
Not the story of Princess Aurora, though… because I will only sleep during the whole time…

So, what do you call a person like me?
Romantic?
Poetic?
Artistic?
Loonatic? :P

Angela Monet said:
“Those who danced were thought to be quite insane by those who could not hear the music.”

So you can call me anything you want;
I’m just going to be keep on dancing…

Anyone feels like dancing with me?
Read More....